Menumbuhkan Kecintaan Terhadap Rasulullah SAW
Setiap tahun kita selalu memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Peringatan ini bukanlah sekedar acara seremonial. Melainkan suatu peristiwa yang menyadarkan kepada kita, akan pentingnya sosok manusia agung, yang telah membawa kita kepada cahaya terang Illahi, sebagai bentuk kasih sayang Allah SWT kepada umat manusia.
Oleh BAYU N SAPUTRA
Memang diakui bahwa kegiatan seperti ini sudah seperti formalitas keagamaan, tanpa disertai nilai-nilai spiritualitas yang terkandung di dalamnya. Dekadensi moral yang melanda umat manusia di seluruh belahan dunia ini, memberikan dampaknya terhadap umat muslim di Indonesia. Ini merupakan pengaruh langsung maupun tidak langsung, dari paham materialisme yang notabene menghancurkan sendi-sendi kehidupan manusia.
Meskipun dengan situasi dan keadaan yang demikian, kita sebagai umat muslim, harus bertahan dengan mempertebal keyakinan dan keimanan kita terhadap Allah SWT. Sebagai bentuk kepatuhan kita tanpa syarat, terhadap hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, Tuhan Semesta Alam.
Beratus-ratus abad, kita dipisahkan jarak dan waktu. Itulah yang memisahkan kita dengan masa kenabian Nabi Muhammad SAW. Akibatnya, membuat nilai-nilai keimanan menjadi luntur. Ditambah dengan semakin sedikitnya contoh dan teladan bagi umat Islam di seluruh dunia.
Keadaaan tersebut, mendorong umat muslim yang mencintai Rasul-Nya, berkeinginan untuk memperdalam seperti apa kehidupan Nabi Muhammad SAW dari sisi pribadinya. Dapat dibayangkan, kerinduan umat Nabi Muhammad, meskipun beliau sudah lama meninggalkan kita semua, namun ajaran yang dibawanya, tetap terpatri dalam kalbu setiap umatnya.
Mungkin bagi sebagian umat Islam yang lain, nilai-nilai spiritualitas seperti tadi, bukanlah sesuatu yang penting. Mereka mengutamakan praktek ajaran syariat Islam, yang tentu saja harus dijalankan sehari-hari. Itu merupakan landasan pokok, yang harus dilaksanakan.
Walaupun demikian, bukanlah sesuatu yang tabu, untuk selalu mengingat sisi manusiawinya Nabi Muhammad SAW, yang telah berpengaruh besar terhadap kemajuan umat manusia. Di setiap episode jaman, banyak pribadi terkenal yang meniru sosok Nabi Muhammad SAW, misalnya, Imam Bukhori, Salahudin Al-Ayubi, Bung Hatta, Mohammad Natsir, Buya Hamka, dan lain-lain.
Menurut Mohammad Nur Abdul Hafid (2004: 82-85), umat muslim hendaknya bercermin pada Rasulullah SAW. Seperti yang diriwayatkan oleh Al-Qadhi Abu Fadhl Iyadh yang sanadnya bersambung pada Hasan bin Ali r.a, dimana Hasan bertanya pada pamannya, Hind bin Halah, tentang sifat Rasulullah SAW. Hind bin Halah dikenal sebagai orang yang akurat dalam menggambarkan sifat-sifat Rasulullah SAW.
Dia menjelaskan bahwa Rasulullah SAW adalah sosok seseorang yang sangat agung, luhur, dan berwibawa. Wajahnya cerah bagaikan rembulan di malam purnama. Beliau lebih tinggi dari orang yang pendek dan lebih pendek dari orang yang tinggi. Beliau berjiwa pelindung dan mempunyai perhatian yang besar terhadap masyarakat luas. Rambutnya bergelombang. Apabila beliau menyisir rambutnya, dibelahnya menjadi dua. Bila tidak, ujungnya tidak sampai melampaui daun telinga. Rambutnya selalu disisir rapi hingga tampak bersih dan necis.
Dahi beliau lebar. Alisnya melengkung bagaikan bulan sabit yang terpisah. Di antara kedua alisnya, terdapat urat yang tampak kemerah-merahan ketika beliau marah. Hidungnya mancung, dan di ujungnya terdapat cahaya yang memancar, bila orang melihatnya kurang teliti, akan mengira ujung hidungnya lebih mancung. Jenggotnya tebal. Kedua pipinya mulus dan mulutnya serasi dengan bentuk wajahnya. Giginya agak renggang dan tertata rapi. Bulu badannya halus. Lehernya mulus dan gagah bagaikan leher kendi.
Bentuk tubuhnya sedang-sedang saja. Badannya berotot dan berisi. Perut dan dadanya sejajar. Dadanya bidang. Jarak antara kedua bahunya lebar dan tulang persendiannya besar. Badannya yang tidak ditumbuhi rambut tampak mengkilap. Dari pangkal leher sampai ke pusar tumbuh bulu tebal bagaikan garis. Kedua dada dan perutnya bersih bercahaya. Kedua tangan, bahu dan dada bagian atas tumbuh bulu halus. Kedua ruas tulang tangannya panjang dan telapak tangannya lebar. Kedua telapak tangan dan kakinya tebal. Jari-jemarinya panjang. Lekukan telapak kakinya tidak menyentuh tanah. Kedua kakinya licin sehingga air seakan tidak membasahi.
Bila beliau berjalan, kakinya selalu diangkat dengan tegap. Beliau melangkah dengan mantap dan berjalan penuh dengan sopan santun. Jalannya cepat seakan beliau turun ke tempat yang rendah. Bila menoleh kepada seseorang, selalu memalingkan seluruh badannya. Pandangan matanya selalu terarah ke bawah lebih lama ke bumi dibandingkan pandangannya ke langit, dan pandangannya penuh makna. Bila beliau berjalan bersama salah seorang sahabat, beliau selalu berada di belakang. Dan bila berpapasan, beliau menyapanya dengan salam.
Kemudian Hasan bertanya lagi, “Lalu, bagaimana cara beliau berbicara?”
Hind bin Halah menjelaskan kembali bahwa Rasulullah Saw adalah seseorang yang selalu tampak sedih. Beliau selalu berpikir, bahkan tidak sempat beristirahat. Beliau lebih banyak diam dan berbicara seperlunya saja. Membuka dan menutup pembicaraan dengan senyuman. Isi pembicaraannya padat dan bermakna, ucapannya jelas, tidak ada yang sia-sia atau kurang dipahami.
Bila kebenaran dilanggar oleh siapa pun, beliau akan marah dan tidak ada seorang pun yang bisa meredam amarahnya sebelum kebenaran itu ditegakkan kembali. Beliau tidak akan marah terhadap sesuatu yang dinilai bisa merugikan dirinya. Bila beliau menunjuk sesuatu, beliau tunjuk dengan tangannya (bukan dengan satu jari). Bila beliau kagum pada seseorang, beliau membalikan tangannya. Bila beliau bercakap-cakap, beliau sering menekan-nekankan ibu jari tangan yang kanan ke telapak tangan yang kiri. Bila beliau marah, beliau memalingkan wajahnya. Bila beliau senang, dipejamkan matanya. Bila beliau ketawa, beliau hanya tersenyum dan kelihatan manis sekali bagaikan butiran salju…Setelah mengetahui detail kehidupan manusiawi seorang Rasul Allah, bukankah beliau itu manusia biasa? Yang bisa diteladani kehidupannya, kepribadiannya, kebiasaannya, maupun kegemarannya. Sama seperti orang tua kita yang telah wafat, meninggalkan seluruh nasehat kepada anak-anaknya.
Rasulullah SAW juga demikian. Beliau mengajarkan kepada kita kesederhanaan dan efektifitas bertindak, berpikir, dan bersikap. Tidak berlebih-lebihan. Penuh dengan keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan.
Itulah makna sebenarnya dari memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Sosok manusia sederhana, yang mampu memberikan sinar kebahagiaan bagi siapa saja yang ikhlas meneladani kehidupan beliau. Semoga Allah SWT, memberikan cahaya kebahagiaan itu, bagi kita semua. Amin.
BAYU N SAPUTRA
Bekerja di Bidang Komputer,Fakultas Peternakan Unpad


