Sarana Hiburan dan Olahraga Masyarakat Bandung
Tanggal 30 November 2008 pukul enam pagi, ketika orang belum melakukan banyak aktivitas di luar rumah, kami sekeluarga mempersiapkan diri untuk olahraga santai di Tegallega.
Kawasan ini menjadi pilihan menarik karena luasnya lahan yang tersedia untuk fasilitas hiburan dan sarana olahraga keluarga yang dapat terjangkau oleh semua lapisan masyarakat kota Bandung.
Tiba di kawasan tersebut, tampak begitu ramai orang yang datang. Selain untuk hiburan dan olahraga, di kawasan ini terdapat sejumlah pedagang makanan yang menyajikan menu beraneka macam. Makanan tersedia mulai dari yang tradisional sampai modern pun hadir disini.
Setelah parkir kendaraan, kami melakukan pemanasan sejenak, yaitu dengan jalan kaki mengelilingi Tegallega. Baru beberapa meter melangkah, kami menjumpai seorang ibu yang menyewakan raket bulutangkis. Untuk sepasang raket dikenakan tarif sebesar 2000 rupiah/jam.
Kontan saja saya tertarik untuk menyewa raket tersebut. Selain harganya yang murah meriah, tentu saja membantu aktivitas olahraga kami sekeluarga. Akhirnya setelah membayar uang untuk sewa raket tersebut, saya beserta istri langsung mencari tempat untuk “sekedar” mengeluarkan keringat.
Untunglah tak jauh dari tempat penyewaan raket tadi, terdapat lapang luas yang bisa digunakan olahraga “bulutangkis” ala kadarnya. Tak terasa peluh dan keringat bercucuran, walau itu hanya sekedar pukulan-pukulan ringan. Kami tidak menggunakan teknik profesional seperti para atlet bulutangkis nasional. Yang penting lemak dapat terbakar.
Memang sangat berisiko dan membahayakan kalau lemak dalam tubuh ini selalu bertumpuk setiap hari tanpa ada keseimbangan berolahraga. Awalnya sempat malas juga melakukan olah tubuh. Kaku karena tidak rajin berolahraga, jelas membuat kami sempat kewalahan saat melakukan gerakan pukulan bulutangkis. Namun setelah mengeluarkan keringat, rasanya kami tambah semangat untuk segara melakukan proses detoksifikasi.
Lumayan satu jam pun tak terasa kami lewati. Dengan perasaan gembira, kami menyudahi acara “keringat” ini dengan menyerahkan raket kepada ibu yang menunggu kami dengan setia.
Setelah itu kami melanjutkan jalan-jalan agar tubuh tidak kaku kembali. Sambil lihat kiri kanan kami melangkah melewati para pedagang makanan yang ada. Wah, ternyata habis berolahraga rasa lapar pun menyergap. Kami sepakat ingin menyantap lontong kari yang dicampur kuah dari kaldu ayam. Sungguh menyenangkan berolahraga sekaligus hiburan di tempat seperti ini.


