Gitar Yamaha
Telah lama saya berhenti bermain gitar. Baik teknis permainan maupun latihan-latihan intens yang biasanya merupakan jadwal rutin yang dulu sempat menghiasi hari-hari dalam hidup saya. Memang satu dua kesempatan sering “gonjrang-gonjreng” tidak karuan. Kekosongan tersebut digantikan oleh rangkaian kegiatan yang mampu menguras aktifitas otak kiri, apalagi kalau bukan kegemaran “ngoprek” komputer.
Semenjak lulus sekolah menengah dan mengenal komputer sekitar akhir tahun 1995, tak henti-hentinya diri saya tenggelam dalam dunia bilangan biner tersebut. Dunia musik perlahan seolah hilang dari kehidupan saya. Tergantikan oleh notasi baru yang menurut pendapat pribadi, sama pentingnya dalam membentuk mental dan karakter hidup seorang manusia.
Dulu kehidupan sosial dan pribadi saya boleh dikatakan penuh warna. Mungkin ini disebabkan oleh pengaruh musik yang hampir mendominasi seluruh pemikiran saya. Dalam prinsip dan falsafah kehidupan yang terdahulu, semuanya berlandaskan suasana hati. Jika suasana hati sedang baik, maka cerialah dunia ini. Begitu pun sebaliknya. Namun hampir dapat dipastikan bahwa hari-hari terasa begitu indah.
Berbeda terbalik dengan hobi saya sekarang, yaitu orang bilang “ICT”. Semuanya serba terukur, sistematis, dan semuanya serba pasti karena diatur oleh algoritma program bikinan manusia. Semuanya membuat lebih teratur, terjadwal dan boleh disebut lebih disiplin dalam semua hal yang saya kerjakan.
Memang sungguh paradoksal. Tuhan selalu memberi jalan yang tidak pernah terfikirkan oleh siapa pun, termasuk saya. Kini setelah menikah dan diberi karunia anak perempuan, sungguh tak terduga siklus kehidupan kembali berputar.
Apa yang dahulu saya gemari, ternyata disukai pula oleh anak saya terutama dalam hal-hal musikal. Memang usianya baru 4, menginjak 5 tahun Juni 2009 nanti. Generasi sekarang tampaknya tak bisa lepas dari serbuan-serbuan tayangan musik yang selalu menghiasi acara televisi. Bangun pagi, sederet acara bertema musik langsung menyergap para penonton, sehingga anak-anak sekarang lebih hafal para musisi dibanding pahlawan nasional bangsanya sendiri.
Anak saya rupaya diam-diam merupakan fans dari sebuah band musik anak muda jaman sekarang. Sebut saja ST 12, yang melahirkan banyak lagu dengan tema-tema romantis, dengan sentuhan nuansa cengkok melayu. Apalagi mendengar lantunan tembang “Saat Terakhir”, tanpa dikomando seiring lagu dimainkan, maka terdengar suara koor dari bait syair lagu tersebut.
Yang lebih membuat saya terkejut adalah ketika permintaannya untuk dibelikan sebuah gitar. “Pak, kata ibu dulu sering bermain gitar. Beli donk, biar nyanyi bareng-bareng.” Begitu ucapnya.
Sambil setengah tak percaya, membuat saya berfikir “Hal terbaik apa, yang dapat saya berikan kepada bocah ini?”
Dua hari lamanya saya mencoba menjawab keraguan yang hadir dalam hati, terutama dari sudut pandang sebagai orang tua mengenai baik buruknya apabila keinginan sang anak dipenuhi.
Akhirnya saya mengambil keputusan untuk membelikan gitar untuk sang buah hati demi hobi barunya ini. Dengan pertimbangan, tidak menganggu jadwal yang sudah diatur dan ditentukan. Seperti pagi pergi sekolah TK, sore mengaji, dan malam belajar.
Berangkatlah saya ke sebuah pusat pertokoan di kawasan Alun-alun Bandung, tempat biasa dulu membeli peralatan musik. Kulihat ada sebuah toko yang khusus menjual alat musik, yaitu salah satunya gitar. Gitar yang ditawarkan terdiri dari berbagai jenis dan merk. Ada gitar elektrik dengan merk terkenal seperti Fender, Gibson, dan sebagainya. Terdapat pula gitar akustik bolong, saya lebih senang menyebutnya “Gitar Bolong”.
Setelah beberapa saat memilih, akhirnya pilihan jatuh pada gitar akustik nilon dengan merk Yamaha. Kenapa saya memilih gitar akustik dengan dawai nilon, selain harganya pas di kantong, juga memudahkan anak saya dalam belajar chord gitar. Seandainya membeli gitar akustik dengan dawai string kawat, saya khawatir akan melukai jari tangannya yang masih mungil.
Hehehe…setelah hampir 8 tahun lebih akhirnya bisa bermain gitar lagi, lewat keinginan Ade (nama panggilan kesayangan anak saya, Tiara). Meski jari-jari terasa kaku terutama saat memainkan beberapa chord gitar yang bernada miring, kenanganku kembali berputar di saat dulu saat bermain di panggung kampung dekat rumah memperingati 17 Agustus-an. Satu panggung dengan artis-artis pendukung jaman baheula seperti Stacato Band (orang ciateul), Melky Goeslaw (ayahanda Melly Goeslaw), Ina Rawi, Elly Sunarya, Euis Darliah , dan masih banyak lagi artis-artis yang tampil sungguh merupakan suatu kebanggan tersendiri.
Tahun 90 sampai 95-an, artis masih mau tampil di acara panggung. Tanpa terlalu pusing memikirkan masalah honorarium. Mau dibayar berapa pun mereka pasti tampil, terutama untuk mensukseskan acara besar seperti 17 Agustus-an. Ya itung-itung memberikan kontribusi kepada negara.
Lagu-lagu yang dimainkan pada saat itu, sebagian besar adalah lagu cadas alias rock. Karena kiblat musik jaman tersebut, dipengaruhi oleh aliran musik-musik keras seperti “Heavy Metal” yang diusung oleh band-band legendaris seperti Metallica, Gun n Roses, dan lain-lain
Begitu pula gaya musik yang saya bawakan bersama teman-teman, membawakan lagu cadas. Untuk dalam negeri saya sering mengusung lagu-lagu “God Bless” (Ahmad Albar dkk) atau Iwan Fals (Swami dan Kantata Takwa) bahkan Bang Haji Rhoma Irama ada beberapa buah lagu yang beraliran musik rock. Namun jaman sudah berubah. Lagu sekarang meski tidak hafal semua, saya kira cukup baik. Baik dalam hal permainan maupun gaya musik mereka. Pelan tapi pasti, saya pun mulai menyukai lagu-lagu karya anak muda sekarang. Nampaknya lagu ST 12 yang difavoritkan oleh anak saya, mulai terdengar enak di telinga. Apalagi hampir setiap hari lagu tersebut diputar oleh salah satu stasiun televisi swasta.
Lumayan buat menyeimbangkan otak kiri dan kanan, yang mulai terasa berat sebelah. Sekarang saya terlalu teknis untuk memutuskan sesuatu. Padahal tidak semuanya harus didasari cara seperti itu dalam memutuskan sesuatu. Terkecuali hal-hal yang memerlukan analisis mendalam.
Akhirnya firman Allah SWT terbukti bahwa manusia itu harus seimbang lahir bathin, dunia dan akherat. Tidak bisa kita memprioritaskan salah satu. Semuanya harus berada pada kadar yang proporsional dan saling melengkapi. Tuh kan mulai lagi deh mikirnya kayak profesor…cape deh…!!! "Yang penting mah jangan lupa sholat lima waktu". Begitu pesan guru ngaji saya waktu kecil***
Bayu N. Saputra


