Water Park Lanud Sulaeman
Pada hari Sabtu tanggal 4 April 2009, seperti biasa jadwal membersihkan dua kendaraan motor yang nampak kotor. Urutan pertama tentu saja ‘Abah’ (Super Cup). Selain menghindari korosi dan debu yang menempel, ‘Abah’ diperiksa secara rutin apabila ditemukan adanya kerusakan.
Berikutnya adalah ‘Jagur’, motor favorit setelah ‘Abah’. Motor Astrea Star tahun 1995 ini harus dibersihkan. Sebelumnya terkena lumpur dan kotoran selama musim penghujan
Selesai memandikan kedua motor tadi, kegiatan selanjutnya adalah menjemput Tiara di TK Fajar. Biasanya kalau hari Sabtu acara di sekolahnya adalah berolahraga. Jam menunjukkan pukul 10.00 WIB, tiba saatnya untuk menjemput. Sampai di sekolah TK terlihat ada acara memasak. Muncul rasa penasaran untuk melihat acara memasak. Ternyata diketahui tema acara itu adalah membuat ‘jagung beledug’ alias popcorn.
Tiara melihat kedatangan kami. Dengan bergegas tasnya yang berada dalam laci segera disambarnya. Memang hari Sabtu ada semacam perjanjian tidak tertulis diantara kami, yaitu acara jalan-jalan.
Sambil menjalankan motor secara perlahan tiba-tiba istriku mengajukan usul untuk berenang di Water Park Lanud Sulaeman. “Ok”, begitu jawab saya.
Dan rute jalan yang diambil adalah melewati jalan utama Bypass Soekarno-Hatta. Setelah sebelumnya mengambil jalur Margahayu. Tak lama kemudian kami sampai di jalur Kopo.
Entahlah dari dulu jalur ini merupakan rute yang tidak terlalu menjadi favorit dalam acara jalan-jalan keluargaku. Begitu melewati perempatan lampu merah dari arah timur, kendaraan tampak rapi berderet memanjang. Bukan lahir dari kedisiplinan seperti yang diharapkan, tapi lahir dari antrian kemacetan yang tak tahu sampai mana.
Hati mulai gundah gelisah. Memang masih beruntung, kendaraan bermotor roda dua masih dapat melewati jalan alias tikung sana-tikung sini. Mirip tukang ojek yang bawa penumpang sekehendak hati. Rasanya ingin balik lagi membatalkan perjalanan. Namun melihat keceriaan yang terpancar dari anak dan istriku, membuat tak tega merusak kebahagiaan mereka.
Akhirnya dengan terpaksa jalan yang kutempuh mau tak mau harus membelah rimba kemacetan. “Kayak Jakarta aja nih…” gerutu hatiku. Tanpa mempedulikan apa-apa lagi, jalan di sebelah lajur kiri kuambil. Meski tahu penuh bopeng dan bergelombang ditambah bonus lubang, semakin membuatku kesal.
Biasanya ‘Jagur’ motor yang selalu kubawa santai telah berubah menjadi kuda pacu dengan harapan cepat sampai di tujuan. Terbayang sudah air kolam yang dingin dan segar. Tak terbendung lagi ingin segera merasakan kesegaran itu.
Setelah menjalani kondisi yang tidak menyenangkan, akhirnya tibalah kami pada tempat yang dituju. Bau air yang bercampur kaporit menjadi obat penawar, setelah mengalami jalanan yang penuh dengan kemacetan.
Tanpa banyak kata, kami sekeluarga langsung beli tiket untuk masuk ke ‘Water Park’ Lanud Sulaeman. Wuihh…segar…bugar…terkena cipratan air….saya pun tersenyum kembali.***
Bayu N. Saputra


